Menghidupkan Ketulusan


Sikap dan tindakan tulus atau ikhlas, lila atau sadik, tidak selalu dibalas dengan sikap yang sama. Tulus bisa saja disambut dengan wasangka, cerca hingga hina. Tapi roh dari tulus itu adalah keikhlasan dan kerendahan hati.

Sikap tulus tidak diungkapkan dalam bait kata, ia muncul dari ranah jiwa paling terdalam yang ketika tertanam berarti saya harus menerima apapun konsekuensi yang terjadi dari sikap tulus tersebut.

Sederhananya, apapun hasil dari tindakan tulus atau ikhlas, sepahit apapun, rela diterima dengan tulus dan ikhlas pula. Dia tidak memandang imbalan. Tulus adalah tulus itu sendiri. Tanpa embel-embel.

Sering saya menyatakan tulus tapi saya sendiri tidak tulus dengan apa yang terjadi kemudian.

Rendah hati?

Masih ada yang tahu arti dan makna dari rendah hati? hari gini masih ngomong rendah hati....dua kata itu kerap terlupakan bahkan nyaris hilang dalam kamus hidup.

Rendah hati seperti barang yang tidak laku ketika banyak orang terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Pengendara mobil pribadi menghardik tidak mau kalah arogan dengan sopir angkutan kota yang berhenti di bahu jalan yang sedang menurunkan atau menunggu penumpang.

Pengendara sepeda motor yang kepanasan dan bermuka tebal karena debu dan asap knalpot dengan gesitnya meliuk di sela mobil hingga naik ke trotoar milik pejalan kaki. Demikian halnya ketika antre di halte atau terminal.

Enyahlah rendah hati ketika pada jam sibuk ratusan orang berdesakan menunggu bus/krl tiba. Semua orang menjadi arogan, temasuk saya...

0 comments:

Post a Comment

 

Kicau Kacau

Semilir

Saung maya yang berisi repihan. Isinya segala tentang embusan angin, mulai dari angin duduk, angin lalu, angin semu, angin haluan, angin pegunungan, atau sekadar angin-anginan.

Dalam jeda perlawanan, selalu kembali ke keheningan, kegelapan rimba hutan dan bebatuan di ketinggian...

Creative Commons License
Karya di blog ini berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.