Kaldera Batur, Taman Bumi Global (1)

Awan menyelimuti sebagian kaldera Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, Kamis (6/10/2011). Kawasan gunung menjadi laboratorium geologi yang mahakaya. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT

Kaldera terindah di dunia yang baru saja ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Global Geopark Network atau jaringan taman bumi global. Kaldera juga menjadi laboratorium alam dan budaya terlengkap yang mudah diakses.

KOMPAS.com — Desa Toya Bungkah, masih pagi buta. Dingin merasuk badan yang terus menggeliat tak ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, pukul 04.00 WITA kaki harus segera melangkah menyapa cakrawala pagi di puncak Gunung Batur. Dari sebelah tenggara kaki gunung yang berada di sisi Danau Batur, perjalanan pun dimulai.

Jalan berbatu selebar tiga meter yang dilalui, berganti dengan jalan setapak dengan tingkat kemiringan bervariasi antara 20 - 60 derajat. Sunyi, dingin, dipecah oleh suara langkah kaki serta engah napas mendaki.

Dalam perjalanan ternyata dijumpai kelompok pendaki yang juga menuju puncak gunung. Dilihat dari kejauhan, tampak titik-titik cahaya senter yang mengular di jalur pendakian. Jalur yang dipijak adalah batuan beku hasil letusan vulkanik. Kaki harus yakin betul memilih batuan yang tidak lepas dipijak untuk menambah ketinggian.

Pukul 05.45 langkah kaki tiba di bibir kawah tidak jauh puncak Gunung Batur, yaitu tempat yang strategis untuk menyambut matahari terbit. Medio Oktober, matahari mulai semburat di tepi langit sekitar pukul 05.40. Langit biru keunguan dibelah warna emas dari wujud matahari yang perlahan muncul pukul 06.00.

Kelompok pendaki yang ditemui sebelumnya di tengah perjalanan, berkumpul bersama menikmati pagi. Mereka ternyata kebanyakan wisatawan asing asal Australia dan Eropa, sebagian kecil dari Asia Tenggara yaitu dari Malaysia dan Singapura.

Wisatawan menikmati matahari terbit dari kawah I Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, Jumat (7/10/2011). Gunung ini memiliki tiga buah kawah yang masih aktif yang terletak di kaldera Batur raksasa. Banyak wisatawan ke tempat ini hanya berolahraga dan melihat pemandangan. Padahal kawasan gunung juga menjadi laboratorium geologi yang mahakaya. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT

Matahari mulai meninggi, perjalanan dilanjutkan menuju kawah I Gunung Batur. Kawanan monyet jinak sesekali mengiringi turun ke kawah seakan mengantar menuju pintu terowongan lava (lava tunnel). Para ahli geologi mencatat, terowongan sangat unik karena seluruh dinding terbentuk oleh aliran lava.

Ketika Gunung Batur meletus, lava meluber melalui sisi tenggara kawah. "Bagian atas lava lebih dulu membeku, namun bagian dalam masih meleleh sehingga membuat rongga, dan sekarang terbentuk terowongan," kata Indyo Pratomo, ahli geologi dari Museum Geologi Bandung.

Masuk ke dalam pada dinding terowongan yang gelap dapat dijumpai kristal-kristal. Lampu senter yang menyorot membuat kristal kian mengkilap. Indyo mengatakan bahwa kristal terbentuk oleh kandungan asam dan mineral.

Terowongan juga disakralkan oleh masyarakat adat Bali di kaki gunung, di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Di ujung terowongan terlihat bekas sesajen yang teronggok dalam ruang kecil untuk beribadat. Masyarakat sekitar memiliki relasi tak terpisahkan dengan gunung. Gunung merupakan pusat orientasi spiritual.


0 comments:

Post a Comment

 

Kicau Kacau

Semilir

Saung maya yang berisi repihan. Isinya segala tentang embusan angin, mulai dari angin duduk, angin lalu, angin semu, angin haluan, angin pegunungan, atau sekadar angin-anginan.

Dalam jeda perlawanan, selalu kembali ke keheningan, kegelapan rimba hutan dan bebatuan di ketinggian...

Creative Commons License
Karya di blog ini berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.