Keluarga Pesepeda



SAYA masih ingat dulu saat masih ingusan bonceng dibawa ibu naik sepeda mini pergi ke taman kanak-kanak dan pergi ke pasar. Kini saat saya sudah besar dan berkeluarga, kesadaran akan pengalaman masa lampau itu hidup kembali. Sungguh ingatan yang abadi...

Pengalaman itu bukan semata nostalgia, tapi ada nilai budaya dan kearifan. Bersepeda kepanasan melintasi jalan tanah tak rata dan berlubang, obrolan ibu selama dalam perjalanan yang kadang diganggu oleh derit bunyi pedal yang diputar kaki ibu kala itu, kini nilainya telah saya petik, betapa pentingnya membangun hubungan kuat antara orangtua dan anak.

Kini, saya ingin nilai itu tetap abadi dengan mewariskannya kepada anak saya (tanpa bermaksud memaksakan atau mengintervensi dunia/keinginan anak).

Bening putri saya, sejak usia 1 tahun sudah saya bawa jalan ikut naik sepeda onthel. Dia saya dudukkan di boncengan yang terbuat dari rotan yang diletakkan di stang sepeda. Awalnya bersepeda keliling kompleks, lalu ke kampung sebelah, selajutnya keliling kampung yang lainnya, pergi ke warung, belanja dsb. Cuek aja...meski dibilang hari gini...ngajak bayi jalan pakai sepeda onthel.

Sepeda onthel pemberian seorang sahabat di Jogja. Saat itu dia mau pindahan dan sepeda gak terurus pasca-letusan Gunung Merapi. Jadilah sepeda itu menjadi memori pertama putri saya naik sepeda...maapkeun nak, cuma bisa pakai sepeda tua heheh...

Waktu berlalu. Kemudian istri saya belikan sepeda lipat yang saya dapat di pasar sepeda bekas di pinggir jalan Kota Bandung. Murah meriah dan saya belikan boncengan khusus anak sekaligus. Dengan ada sepeda lipat itu, kami jadi bisa ke manapun bersepeda bertiga bersama-sama.

Suatu hari, kantor tempat saya bekerja memberi kesempatan karyawan mendapatkan sepeda khusus Polygon melalui koperasi kantor dan bisa dicicil sangat ringan. Saya langsung mengambil sepeda gunung jenis dirtjump warna putih. Jadi ceritanya sepeda saya mulai naik kelas nih...

Sepeda Bening pertama

Bening putri saya bertambah besar. Selain tetap setia ikut bundanya membonceng di belakang sepeda lipat, dia saya belikan sepeda anak. Awalnya rada ragu beli, kok sepeda anak yang bagus harganya mahal ya?

Sepeda kecil kerap dibawa ke manapun saat dia bermain. Bahkan pengen beratraksi kayak ayahnya yang suka main dirtjump. Tak apalah, demi kesehatan (dari pada autis main gadget dan PS) saya turuti saja pelan-pelan sampai akhirnya lengkap dibelikan helm, sarung tangan, ditambah pengaman betis dan lengan untuknya.

Jalan-jalan di akhir pekan untuk dalam kota kami biasakan pakai sepeda. Tempat favorit kami sekeluarga akhir pekan adalah Kebun Raya Bogor yang jaraknya dari rumah hanya sekitar 30 menit bersepeda. Selepas itu biasanya keliling sekitar kota jelajah kuliner khas Bogor, yang paling doyan adalah toge gorengnya yang maknyus di Jalan Surya Kencana.

Kini sepeda menjadi alat transportasi utama kami. Ke manapun Kalau cuma di dalam kota, selain mengandalkan sepeda, ya jalan kaki atau naik angkutan umum.

Tentu saya patut bersyukur dengan kondisi itu. Kalau orang bangga punya banyak motor dan mobil, saya cukup punya sepeda. Asyik bukan?

Newsboy

Baru-baru ini punya sepeda balap bekas merek Federal yang saya beli sangat murah di pasar loak di Jakarta. Itupun kebetulan saya jalan dan pas melirik mata menemukan sepeda legendaris itu.

Tau Federal kan? sepeda itu asli produk Indonesia di akhir tahun 1980 sampai 1990-an. Dibikin oleh Federal Cycle Mustika satu keluarga dengan produsen sepeda motor Honda Federal. Sepeda itu sangat populer sampai pabriknya tutup gara-gara tudingan dumping oleh Eropa.

Meskipun sepeda besi tua, sepeda Fedral saya ini paling sering saya pakai setiap hari, terutama untuk pergi ke kantor. Fungsi sepeda saya maksimalkan setelah mengalami perbaikan beberapa komponen.

Yang saya suka selain fungsinya maksimal khusus di jalanan kota, sepeda ini terlihat sangat klasik. Sepeda saya tambahkan tas/pannier di rak belakang, seperti para newsboy alias tukang koran di Eropa tahun 1900-an atau di Indonesia mirip tukang pos zaman dulu.

Sepertinya tren gaya di tahun 2014 adalah newsboy hehehe...halah kesampingkan tren. Terpenting dalam bersepeda bukanlah sekadar gaya, melainkan kebutuhan, yang ujung-ujungnya tentu demi kesehatan.

Yuk, ikutan bersepeda lalu menularkan ke keluarga kita dan lainnya.

Creative Commons License
Karya di blog ini Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License

1 comments:

 

Kicau Kacau

Semilir

Saung maya yang berisi repihan. Isinya segala tentang embusan angin, mulai dari angin duduk, angin lalu, angin semu, angin haluan, angin pegunungan, atau sekadar angin-anginan.

Dalam jeda perlawanan, selalu kembali ke keheningan, kegelapan rimba hutan dan bebatuan di ketinggian...

Creative Commons License
Karya di blog ini berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.